Mulan: Siapkan Album Solo

    Selepas bermain dalam film Maaf, Saya Menghamili Istri Anda,
penyanyi Mulan Kwok tak lantas meninggalkan dunia tarik suara yang
membesarkan namanya. Seusai Lebaran nanti, dia berencana meluncurkan
album solo bertema cinta.
    “Aku enggak bakal bisa meninggalkan dunia nyanyi. Sudah mendarah
daging rasanya,” ujar Mulan sebelum tampil di Mega Jateng Fair 2007,
Kota Semarang, Minggu (5/8) malam.
    Oleh karena itu, di tengah kesibukan konser, Mulan tetap
menyisihkan waktu untuk menggarap album solo berisi 10 lagu. Album
ini tetap diwarnai pop rock, dengan selingan dangdut. “Album ini
belum bisa cepat-cepat diluncurkan karena baru ada tiga lagu. Tetapi,
materi untuk lagu lain sudah ada sih,” ucapnya.
    Perempuan kelahiran Garut, 23 Agustus 1982, ini mencoba membuat
beberapa lagu sendiri untuk album tersebut. Apa judul albumnya? Kata
Mulan, masih dirahasiakan. Hanya saja, dia menjanjikan warna musik
yang berbeda dengan saat masih bergabung dengan Ratu.
    “Soalnya, sekarang aku lebih bebas berkreasi,” ujar Mulan yang
malam itu tampil tanpa alas kaki karena panggung licin akibat hujan.

Dimuat di Kompas, 8 Agustus 2007 

Tamara: Manfaat Kopi

blogtamara.JPG
    Minum kopi bagi pemain sinetron dan model Tamara Bleszynski
menjadi kebutuhan yang tak bisa dilewatkan. Baginya, minum kopi juga
gaya hidup yang bisa berfungsi sebagai media sosialisasi dan menjalin
relasi.
    “Saya sering nongkrong di kafe kalau lagi capek menghadapi jalan
macet. Kadang bertemu relasi juga di kafe, sambil ngopi,” katanya
seusai acara Kencan Bareng Tamara Bleszynski yang diselenggarakan
Kopi Luwak di Kota Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (21/7) malam.
    Kata perempuan kelahiran Bandung, 25 Desember 1974 ini, minum
kopi pada pagi hari bisa menjadi “motor penggerak” untuk bekerja.
Kopi juga menjadi teman menyenangkan waktu shooting, terutama saat
Tamara mengantuk pada malam hari.
    “Minum kopi kalau enggak berlebihan tak masalah. Makanya saya
juga tidak berlebihan. Biasanya saya minum kopi setelah makan
sehingga meski mag, tetap enggak masalah,” kata Tamara menambahkan.
    Saat ditanya mengenai aktivitasnya, ibu dari Rassya ini
bercerita, dia sedang shooting sinetron komedi yang akan tayang pada
Agustus nanti. Dalam sinetron tersebut, dia berperan sebagai Kokom
dan beradu akting antara lain dengan Primus.

Dimuat di Kompas, 23 Juli 2007 

Lusy: Judulnya Sexy

bloglusy.JPG

    Juli ini akan menjadi bulan istimewa untuk penyanyi Lusy
Rahmawaty (30). Mantan personel AB Three ini akan meluncurkan album
terbaru bertajuk Sexy. Album ketiga itu didominasi warna musik pop
dance, sedikit berbeda dengan album terdahulu yang bernuansa pop.
    Dalam album berisi 10 lagu ini, Lusy mengaku menyukai lagu
berjudul Sexy. Kenapa? “Soalnya, waktu menggarap lagu ini aku
tertantang banget. Lirik lagunya aku yang nulis,” kata ibu dari
Keitaro dan Kimiko ini.
    Melodi lagu ini pendek-pendek, ujarnya, jadi kurang pas untuk
lirik berbahasa Indonesia. Lusy pun harus memutar otak, mencampur
lirik lagu ini dengan bahasa Inggris.
    Perempuan kelahiran Jakarta, 4 Januari 1977, ini kemudian
melantunkan sepenggal dari Sexy. “… Ku mau, kamu mau, jangan
ditahan. Come on baby don’t be shy…. “.
    Lho? Aaahh, jangan berpikir macam-macam dululah. Lirik lagu ini
hanya berisi ajakan seseorang untuk berdansa, kok.
    “Iya dong, jangan mikir kalau lirik lagu ini artinya yang lain-
lain yaaa,” kata istri sutradara Jose Poernomo sambil tertawa, saat
ditemui di sela-sela konser bertajuk The Shining Star di Semarang,
Jawa Tengah, Sabtu (23/6).

Dimuat di Kompas, 26 Juni 2007 

Acha: Jalan-Jalan di Sunda Kelapa

blogaca.JPG
    Shooting film Love is Cinta, bagi pemain film Acha Septriasa
(18), serasa dikerjakan bersama keluarga sendiri. Kok bisa? Sebab,
para pemain film garapan sutradara Hanny R Saputra ini, kata Acha,
sudah amat dikenalnya. Sebut, misalnya, Raffi Ahmad yang berperan
sebagai Doni dan Irwansyah sebagai Ryan.
    “Pemain-pemain film itu orang-orang yang dekat dengan saya,”
kata pemeran Cinta dalam Love is Cinta di Gedung Plaza Simpanglima,
Semarang, Jawa Tengah, pekan lalu.
    Bahkan, Irwansyah, lawan main Acha dalam film dia sebelumnya,
Heart, dalam kehidupan nyata adalah kekasihnya.
    Oleh karena itu, sehabis shooting di Jakarta maupun di Bandung,
mereka sering jalan bareng. “Kan sekalian jalan-jalan. Apalagi
sebagian tempat shooting itu ternyata memang belum pernah kami
datangi, seperti Sunda Kelapa,” ujarnya.
    Dia lalu bercerita tentang bangunan-bangunan tua yang menjadi
lokasi shooting. “Saya kagum. Meskipun, memang sih kadang rasanya
nyeremin juga,” ujar dara kelahiran 1 September 1989 ini.
    Biar seram, tetapi kalau ada pacar di samping kita, kan rasanya
lain ya….

Dimuat di Kompas, 31 Mei 2007 

Bunga Citra Lestari: Peran Lebih Dewasa

    Peran sebagai siswi SMA hampir selalu melekat dalam penampilan
pemain film dan penyanyi Bunga Citra Lestari (24). Namun, hal itu tak
akan muncul lagi dalam film drama terbarunya.
    “Ya, asyik, peranku kali ini bakal lebih dewasa,” ungkap Bunga
yang mengaku lagi jomblo saat bertandang ke Semarang, Jawa Tengah,
pekan lalu.
    Katanya, film terbarunya merupakan drama yang memadukan
kesedihan, kelucuan, dan kekonyolan, tetapi juga ada unsur seninya.
Ketika ditanya lebih rinci, Bunga enggan menceritakannya lebih lanjut.
    “Detail jalan cerita, produser, dan skenarionya masih
dirahasiakan,” kata Bunga yang bermain dalam film Cinta Pertama.
    Dara kelahiran 22 Maret 1983 ini tampaknya suka merahasiakan film
yang tengah dia mainkan. Hal yang sama dia lakukan saat Cinta Pertama
karya sutradara Nayato Fio Nuala masih dalam proses.
    Dia hanya mengaku sekarang ini masih sibuk mempersiapkan diri
untuk menjiwai perannya dalam film tersebut. Di sela-sela persiapan
itu, Bunga masih bepergian ke sana kemari untuk memperdengarkan
suaranya.
    Orang pun, seperti biasa, selalu ingin mendengar langsung gadis
itu melantunkan lagu populernya, seperti Cinta Pertama (Sunny).

Dimuat di Kompas, 2 Mei 2007 

Tora Sudiro: Tato yang Mengundang Tanya

 Memangnya tato Tora asli?” Itu pertanyaan yang entah sudah
berapa kali diajukan orang kepada pemain film Tora Sudiro (34). Hal
ini kembali terjadi saat Tora berada di Kota Semarang, untuk nonton
bersama film Nagabonar Jadi Dua, Jumat (13/4).
    Kata Tora, pertanyaan serupa juga muncul, misalnya, saat dia
berada di Kota Balikpapan.
    “Eh, sekarang juga ada yang nanya, tatonya tenanan apa enggak?”
kata ayah dua anak ini.
    Meski begitu, toh laki-laki kelahiran Jakarta, 10 Mei 1973, itu
tetap juga menjawab pertanyaan tersebut. Dia menyebutkan tato di
tubuhnya benar-benar asli.
    Pertanyaan selanjutnya, mengapa Tora merelakan tubuhnya ditato?
    “Lha, kalau yang ini karena bapak saya namanya Tato Sudiro,”
ujarnya berkelakar.
    Tora lalu melanjutkan penjelasannya seputar tato. Katanya, tora
dalam bahasa Jepang artinya macan. Kata itu lalu disesuaikannya
dengan salah satu peribahasa, yakni harimau mati meninggalkan belang.
    Jadi?
    “Harimau mati meninggalkan belang. Tora mati meninggalkan
tato…,” ucap Tora yang muncul di Extravaganza tiap Senin dan Sabtu
di Trans. Ah Tora, jawaban ini bukannya sudah berulang pula kau
ucapkan.

Dimuat di Kompas, 18 April 2007 

Mendiknas Kena Demam Tukul

    Tukul yang muncul setiap malam dari Senin hingga Jumat di Trans 7
membuat banyak orang terkena demam, termasuk Menteri Pendidikan
Nasional Bambang Sudibyo (54).
    Di tengah orasi ilmiahnya berjudul “Percepatan Pemberantasan
Buta Aksara” di Universitas Negeri Semarang, Sabtu (24/3), Bambang
sempat mengatakan bahwa dia dan istrinya hingga sekitar pukul 23.00
menonton acara yang edukatif. “Ya, itu, acaranya Tukul,” kata dia
sambil menunjuk dengan dua jari, menirukan gaya Tukul.
    Kontan, peserta orasi ilmiah tertawa dan bertepuk tangan. Menurut
pria kelahiran Temanggung, 8 Oktober 1952 ini, Tukul merupakan sosok
edukator yang luar biasa. Selebriti terkenal pun bertekuk lutut
ketika berhadapan dengan tukul. “Saya pribadi memberikan rating
tinggi untuk Tukul,” ujar Bambang.
    Menurut Bambang, Tukul memberi sentuhan pada aspek kemanusiaan.
Dagelan yang dibawakan Tukul berbeda dengan acara lain yang cenderung
lebih banyak menjelek-jelekkan dan menertawakan orang lain. “Dagelan
Tukul yang menertawakan diri sendiri lebih sehat,” kata dia

Dimuat di Kompas, 28 Maret 2007 

Mbah Maridjan Turun Gunung

20070323ab1i1.jpg  

Mbah Maridjan (74), memang selebriti. Belasan orang berebut untuk
berfoto dengan juru kunci Gunung Merapi ini. Sesekali terlihat dia
ingin duduk, tetapi sudah kembali ditarik untuk berfoto lagi.
    Peristiwa ini tidak sedang berlangsung di kediamannya di Dusun
Kinahrejo, Kelurahan Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Yogyakarta,
melainkan di Kabupaten Semarang. Mbah Maridjan sedang turun gunung
dan mengunjungi salah satu pabrik PT Sido Muncul yang menjadikannya
sebagai bintang iklan, Jumat (23/3).
    Mengenai banyaknya orang yang berebut berfoto dan menganggapnya
seperti bintang film, Mbah Maridjan dengan gayanya yang khas
menyanggahnya. “Bintang? Bintang Merapi, apa?” kata dia balik
bertanya sambil terkekeh.
    Mbah Maridjan langsung berangkat dari rumahnya menuju pabrik
tersebut, dan berencana langsung pulang seusai acara. “Saya itu,
kalau tidak tidur ya jalan,” katanya.
    Komentar datang dari beberapa orang yang melihat Mbah Maridjan.
Beberapa orang di antaranya mencoba menyapa dengan bahasa Indonesia.
    “Saya enggak bisa berbahasa Indonesia. Saya tidak sekolah,” kata
si “Bintang Merapi” ini dengan bahasa Indonesia. Piye to, Mbah….

Dimuat di Kompas, 24 Maret 2007 

TAN SING LOEN, MENERUSKAN TRADISI SEKOLAH GRATIS

 Tan Sing Loen

Jauh sebelum sekolah gratis ramai dibicarakan, sebuah sekolah di
daerah pecinan, Kota Semarang, Jawa Tengah, sudah menerapkannya.
Tidak hanya untuk etnis Tionghoa, sekolah gratis ini didedikasikan
bagi semua golongan sejauh mereka tidak mampu. Sebagai Ketua Yayasan Khong Kauw Hwee, Tan Sing Loen sudah belasan tahun mengelola sekolah ini.

    Perkenalan Tan Sing Loen (74) dengan Yayasan Khong Kauw Hwee
sebenarnya sudah berlangsung sejak sekolah ini dirintis, sekitar
tahun 1950. Ketika itu, dia masih sekadar membantu mencarikan dana lewat
penyelenggaraan bazar. Keterlibatannya dengan yayasan itu pun semula
masih sekadar membantu. Sesekali dia terlibat langsung dengan
kegiatan sekolah sebab ketika itu Tan Sing Loen masih sibuk berdagang
alat-alat listrik di tokonya, juga di kawasan pecinan Semarang.
    Pada tahun 1984 dia diminta untuk menjadi sekretaris yayasan.
Lalu, beberapa tahun kemudian dia menggantikan ketua yayasan yang
meninggal dunia. Sekolah Kuncup Melati yang dikelola Tan Sing Loen ini sekilas
tidak berbeda dengan sekolah lain. Bangunan sekolah yang terletak di
Gang Lombok-kawasan pecinan Semarang-ini juga tak terlalu besar.
Namun, di sekolah ini ratusan anak tak mampu dari berbagai latar
belakang menimba ilmu tanpa dipungut bayaran sepeser pun. Dana operasional sekolah ini semata-mata didapat dari para donatur.
    Tak jarang pula, untuk membantu yayasan, para orangtua murid
menyempatkan diri turut membersihkan lingkungan sekolah. Ini karena
di sekolah tersebut tidak ada petugas kebersihan.
    Pendidikan gratis yang hanya bermodal sumbangan dan kerelaan hati
para donatur ini terdiri atas taman kanak-kanak (TK) dan sekolah
dasar (SD). Sudah sejak tahun 1950 sekolah tersebut membantu ribuan
anak tak mampu untuk mengenyam pendidikan. Pada tahun ajaran baru
tahun ini seluruh siswanya berjumlah 243 anak.
    “Sekolah ini merupakan wadah pengabdian. Para murid tidak pernah
dipungut biaya apa pun. Namun, justru banyak donatur yang terketuk
hatinya untuk membantu,” ungkap Tan Sing Loen akhir Juli lalu.
    Bantuan yang diterima sekolah ini tidak selamanya berupa uang.
Ada pula masyarakat yang memberikan alat tulis, seragam, membantu
membayar rekening listrik, rekening telepon, atau memberi makanan.
Pengurus yayasan tak pernah menolak bantuan dalam bentuk apa pun.
    Saat Kompas sedang berbincang dengan laki-laki yang sering
dipanggil Om Tan ini, seorang perempuan datang ke ruangan kepala
sekolah. Dia menawarkan diri untuk mengisi kekosongan guru bahasa
Mandarin bagi murid kelas enam, tanpa meminta bayaran.
    “Entah dari mana dia dapat informasi bahwa kami kekurangan guru.
Tetapi, memang bantuan semacam ini juga sering datang meski kami
tidak pernah meminta. Dermawan selalu saja ada,” tuturnya.
    Setiap bantuan berupa barang diberikan langsung kepada para
murid. Om Tan menerapkan manajemen terbuka. Oleh karena itulah,
setiap donatur bisa langsung melihat untuk apa sumbangan yang diberikan.

Pengabdian dan sukarela
    Menurut Om Tan, pengelolaan yayasan ini berpedoman pada prinsip
pengabdian dan sukarela. Hal ini pula yang mengawali berdirinya
sekolah tersebut pada tahun 1949. Berbekal sisa uang iklan buku
peringatan kelahiran Kong Hu Chu senilai Rp 800 dan sumbangan seorang
dermawan Rp 1.000, para perintis Khong Kauw Hwee membuat bangku dan
meja untuk kegiatan belajar mengajar.
    Pada awal 1950 dibukalah kursus pemberantasan buta huruf yang
diadakan di lingkungan Kelenteng Tay Kak Sie di Gang Lombok. Masalah
sempat dihadapi akhir tahun 1960-an ketika salah seorang pendiri
meninggal dunia. Kondisi finansial sempat memburuk dan donatur pun
tidak banyak. Hampir saja sekolah ini ditutup.
    Akan tetapi, pada awal 1970-an, alumni sekolah ini mencoba
membentuk panitia penyelamatan dan mereka bahu-membahu membangkitkan
kembali yayasan ini. Perbaikan terus dilakukan.
    Pada saat Om Tan menjadi ketua yayasan, mengandalkan sumbangan
dari donatur, terkumpul sejumlah uang untuk mendirikan bangunan
sendiri untuk sekolah ini. Dua tahun waktu yang dibutuhkan hingga
bangunan ini berdiri tahun 1992. Bangunan sekolah TK dan SD Kuncup
Melati yang baru ini menempati lahan di sebelah barat Kelenteng Thay
Kak Sie, berlantai tiga, dan terdiri atas sembilan ruangan: dua
ruangan untuk TK, enam ruangan untuk SD, dan ruangan untuk tata usaha (TU).
    Beragam pengalaman didapatkan Om Tan selama 13 tahun memimpin
Khong Kauw Hwee. Kesulitan sempat dialaminya saat sekolah yang
mengandalkan donasi ini murid-muridnya diminta membayar sejumlah uang
oleh dinas pendidikan pada periode 1990-an.
    “Dinas pendidikan tidak percaya kalau sekolah ini benar-benar
tidak memungut bayaran dari murid. Saya juga diminta menghadap kepala
dinas ketika itu,” cerita Om Tan.
    Kesulitan ini pun akhirnya berganti menjadi uluran tangan bagi Om
Tan dan yayasan. Sang kepala dinas yang semula tidak percaya, setelah
mendapat penjelasan, justru berbalik terharu dan memberikan bantuan
buku-buku pelajaran. Kenangan ini sangat membekas dalam hati Om Tan.
    Dia juga tidak pernah membeda-bedakan siswa yang akan masuk di
sekolah ini. Siapa pun dan dari latar belakang apa pun, selama memiliki niat bersekolah dan tak mampu, pasti diterima. Hal ini pula yang membuat siswa sekolah ini tak hanya berasal dari etnis Tionghoa. Om Tan merasakan sendiri bagaimana susahnya orang yang tak bisa mengenyam pendidikan. Ia sendiri lulusan sekolah dasar.

Kedekatan
    Bagaimana dengan kualitas pendidikan? Para siswa tetap diberi
materi pendidikan sesuai dengan kurikulum yang ditetapkan pemerintah.
Bahkan, mereka juga diberi tambahan pelajaran bahasa Inggris dan
Mandarin. Prestasi siswanya juga tak buruk sehingga sekolah ini
menduduki peringkat menengah dari semua sekolah di Kota Semarang.
    Meski tak pernah mendapat gaji, Om Tan tetap bahagia mengabdi di
Khong Kauw Hwee. Bayaran paling berharga baginya adalah tegur sapa
dari para orangtua murid dan kedekatan dengan mereka.
    “Saya tidak gila hormat. Kalau saya yang sudah berusia 74 tahun
ini bisa membantu anak-anak tak mampu, itu membuat saya merasa
berguna,” ujarnya.
    Belasan tahun bekerja tanpa bayaran hanya senyum tulus orangtua
murid dan pengabdian yang membuat Om Tan bertahan. Hal ini pula yang
membuat pria bersahaja ini selalu tersenyum setiap menjumpai seseorang.
    Menurut Kepala SD Kuncup Melati Agustin Indrawati (47), sekalipun
para pengajar mendapatkan imbalan, tetapi jumlahnya sangat
terbatas. “Mengajar di sini lebih mengutamakan kepuasan batin,”
ungkap Agustin Indrawati yang sudah 27 tahun mengabdi.
    Meski 10 murid terbaik sekolah ini bisa melanjutkan ke SMP
Mataram di Semarang dengan gratis, Om Tan mengaku, sebetulnya ia
ingin sekolah Kuncup Melati ini bisa berkembang.
    “Biar anak-anak tak mampu juga bisa sekolah sampai SMP, bahkan
SMA, tak cuma lulus SD saja,” ungkapnya.

Tulisan ini pernah dimuat di Harian Kompas, 3 Agustus 2007 

BERHARAP “PENOPANG HIDUP” ITU BANGKIT

Harjo Mulyono (56) berjalan kaki sambil menjunjung satu keranjang
besar berisi rumput di atas kepalanya, Selasa (3/7). Anaknya yang
berusia belasan tahun mengikuti dari belakang, juga menjunjung
keranjang rumput yang lebih kecil.

   
    Bapak-anak ini memang setiap sore menyusuri jalan mendaki di
Kelurahan Jelok, Kecamatan Cepogo, Boyolali, Jawa Tengah. Mereka
menyusuri rute dalam rentang jarak beberapa kilometer untuk membawa
rumput dari ladang. Rumput itu untuk makanan dua sapi peliharaan,
salah satu sumber penghidupannya, selain bertani.
    Harjo sudah mulai beternak sapi sejak tahun 1997 dengan
memelihara sepasang sapi perah. Setelah sapinya beranak, ia mulai
menjual susu sapi ini. Hanya saja, ia menggunakan jasa pemerah sapi.
Dalam sehari sapinya bisa menghasilkan 10-15 liter susu.
    Untuk setiap liter susu, saat itu ia memperoleh paling tinggi Rp
1.100. Uang hasil penjualan baru bisa diterima setiap sepuluh hari
sekali. Beternak sapi perah menjadi sumber penghasilan pendukung.
Namun, ini tidak bertahan lama. Harga susu segar cenderung stagnan
dan tidak bisa mengimbangi kebutuhan membeli pakan ternak. Hingga
tiga tahun lalu ia memutuskan berhenti menjual susu sapi dan memilih
menggemukkan sapi.
    Bagaimana tidak. Harga jual susu segar pada tiga tahun lalu masih
Rp 1.250 per liter. Harga daun singkong Rp 700 per kilogram,
konsentrat Rp 1.000 per kilogram, dan bekatul Rp 1.000 per kilogram.
Dalam sehari paling tidak dibutuhkan 2 kilogram untuk masing-masing
campuran ini.
    “Harganya tidak cocok. Karena itu, saya berhenti beternak sapi
untuk dijual susunya. Hasilnya tidak cukup untuk memberi makan sapi,
apalagi untuk menghidupi keluarga,” ujar ayah lima orang anak ini.
    Dengan beralih ke penggemukan sapi, ia bisa memperoleh hasil
cukup. Sapi kurus dibeli dengan harga Rp 3,5 juta. Setelah digemukkan
atau sudah mulai bunting, sapi dijual dengan harga Rp 5,7 juta. Bagi
warga Dukuh Pule ini, hasil yang diperoleh dari penggemukan jauh
lebih besar ketimbang harus memelihara sapi perah.
    Peternak lainnya, Sardi (58), mengaku sempat mencoba enam bulan
memelihara seekor sapi perahan dan menjual susunya. Namun, ia mengaku
harga pakan tidak sesuai dengan harga jual susu. Selain itu, ia juga
kesulitan mencari rumput jika kemarau karena tidak ada air yang
cukup. Ternak yang kekurangan rumput bisa menyebabkan kualitas susu
rendah dan harganya tidak bisa maksimal.
    Susu yang dijual melalui koperasi memang harus memenuhi standar
kadar fat atau lemak dan berat jenis. Pada pagi hari lemak minimal
harus 3,30 dan berat jenis 1,0250. Pada sore hari lemak harus 3,50
dan berat jenis 1,0215. Kedua hal ini diperiksa oleh petugas yang
berada di tempat pendinginan susu.
    Karena itu, ia akhirnya menjual sapi perahnya dan memilih
membiakkan sapi dan mengambil selisih harga penjualan. Sardi membeli
anak sapi dengan harga Rp 2 juta dan dijual Rp 4 juta setelah besar.
Ini lebih menguntungkan untuknya. Memelihara sapi perah dengan
jumlahsedikit, kata dia, tidak cukup untuk menutupi biaya pakan.
    “Apalagi saya tidak punya lahan sendiri. Kalau membeli rumput,
harganya mahal. Mungkin kalau di atas sepuluh ekor, lain lagi,” ujar
dia.
    Sekretaris Koperasi Unit Desa Cepogo Sumyani (44) mengatakan,
kondisi ini sudah cukup lama dirasakan peternak sapi perah. Ini
diperparah kenaikan harga BBM pada akhir 2005. Harga pakan naik,
harga susu segar tidak banyak berubah.
    Akibatnya, cukup banyak peternak yang beralih memelihara sapi
potong atau menggemukkan sapi. Di Cepogo, jumlah peternak sapi perah
awalnya mencapai 1.200 orang. Namun, saat ini paling banyak tinggal
800 orang. Jumlah sapi pun jauh berkurang, dari semula 9.000 ekor
menjadi 1.700 ekor. Tidak hanya itu, produksi susu yang pada 1992
mencapai 22.000 liter per hari kini tinggal 4.000 liter hingga 4.500
liter per hari.
    Faktor lainnya adalah harga jual dinilai para peternak masih jauh
dari harga susu sapi impor yang bisa mencapai Rp 5.000 per liter.
Selain itu, kenaikan harga susu pabrikan tidak berdampak terhadap
harga jual susu dari produsen. Perusahaan pengolah susu beranggapan
susu dari peternak di Boyolali kualitasnya di bawah susu impor.
    Secara terpisah, Dekan Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro
Semarang Dr Ir Joelal Achmadi MSc menjelaskan, kualitas susu dari
peternakan sapi perah rakyat di Boyolali itu selalu menjadi masalah
sejak lama.
    Ada dua penyebab utama. Pertama, kandungan bakteri, terutama
Escherichia coli, dalam susu yang masih cukup tinggi. Hal itu tidak
bisa dihindarkan karena jarak antara sapi perah dan instalasi
pengolah susu yang jauh sehingga kontaminasi selama perjalanan tidak
bisa dihindarkan. Dalam perjalanan yang jauh itu, koloni bakteri
berkembang cepat.
    Kedua, bahan padat (total solid) dalam kandungan susu peternak
yang masih rendah. Hal itu kembali ke kualitas pakan sapi perah yang
kurang memenuhi syarat. “Kalau bahan padat rendah, itu berarti kita
kan beli air. Padahal yang dibutuhkan dalam industri bahan padat yang
tinggi,” kata Joelal.
    Untuk itu, Joelal berharap pemerintah dan peternak segera
menyelesaikan kedua masalah utama untuk meningkatkan kualitas susu
Boyolali, yakni dengan meningkatkan sanitasi dan teknologi pakan.
    Terlepas dari masalah kualitas susu tersebut, dua bulan terakhir,
harga susu lokal mulai naik, dari semula Rp 1.300 hingga Rp 1.500
menjadi Rp 1.700- Rp 1.800 per liter. Ini membuat peternak mulai
berminat kembali memelihara sapi perah.
    “Sebenarnya cukup banyak peternak sapi perah yang ingin kembali
berusaha. Hanya saja, mereka tidak mampu membeli sapi lagi,” ujarnya.
    Ia berharap pemerintah kembali memberikan kredit sapi perah
seperti yang pernah dilakukan oleh pemerintah Orde Baru.
    Sumyani menuturkan, permohonan bantuan sudah berkali- kali
dikirimkan oleh koperasi, tetapi pemerintah belum memberikan jawaban.
Ia berharap pemerintah memberikan kredit sapi agar peternakan sapi
perah ini bisa kembali bangkit.
    Dengan demikian, Kabupaten Boyolali yang memiliki banyak monumen
sapi ini benar-benar bisa meningkatkan produksi susu. Seperti salah
satu semboyan yang terpampang di gapura yang ada di Kecamatan
Boyolali, bergambar sapi dengan tulisan “Susumu Penopang Hidupku”.

Tulisan ini pernah dimuat di Harian Kompas, 4 Juli 2007

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.